FF The Last Song - Part 1
Bukan Lee Jinki namanya kalau tidak populer di kalangan siswi-sisiwi yang cantik itu. Jinki dan teman-teman sebandnya, Kim Jonghyun (bassis), Kim Kibum (vokal), dan Choi Siwon (drummer). Jinki sendiri sebagai gitaris. Dan dia adalah gitaris terkeren dan tertampan diantara semua anak band. Bahkan band-band yang merajai di Korea. Dia adalah gitarisku, dengan mata coklat almond dan rambut hitam.
“Seungyeon, bengong aja. Liatin siapa?” Gyuri membangunkan lamunanku. Aduh sial, jangan sampe tahu tentang Jinki.
“Ah nggak. Buruan gih abisin makananya. Bentar lagi bel masuk”
Gyuri masih sibuk makan bekalnya di sini, di kantin. Dan tidak jauh dari tempat kami duduk, Jinki dan rombongannya, yang terdiri dari teman-teman bandnya dan siswi-siswi yang selalu mengikuti mereka kenama pun. Jujur memang kuakui, semua personil band Snowdrop memang punya looks. Terutama Siwon sebagai yang paling tampan.
Saat aku dan Gyuri menuju kelas, kami melewati rombongan Jinki.
“Seungyeon…kemarin kok nelpon aku tapi nanyain Jinki sih? Ada apa ni ya?” Sial, si Jonghyun ember itu. Tuhan, copot mulut dia. “Tahu nggak sih, Jinki. Kemarin pas kamu nggak masuk, dia nelpon aku terus nanyain keadaanmu. Kenapa kamu nggak tanya langsung aja, Seungyeon?”
Aku menarik lengan Gyuri dan kabur secepatnya. Sekilas aku lihat Jinki yang tersenyum diam-diam. Apa artinya?
* * *
Sepulang sekolah, saat aku melewati parkiran, Jinki dan kawan-kawan bandnya pulang dengan mobil keren milik Jinki dan Kibum. Kapan dia bisa memberiku tumpangan? Han Seungyeon, janganlah kamu selalu mengkhayal. Dia bahkan jarang berbicara padaku walau kami sekelas sejak kelas 1. Sudah tiga tahun lamanya aku menyimpan rahasia ini dan sudah tiga tahun lamanya aku tidak pernah berani bicara pada Jinki.
Aku berjalan tanpa semangat. Menunduk kebawah. Tiba-tiba ada yang menarik lenganku. Aku berputar.
“Ketemu lagi sayang.” Sial. Kenapa disaat yang sekarang?
“Mau apa kalian?” Aku berusaha untuk terdengar kuat.
“Mau balas yang beberapa minggu lalu. Ingat?”
Ah ya, tiga minggu lalu aku sempat berurusan dengan orang ini. Eunhyuk dia ketua geng yang menguasai wilayah disini. Sudah empat kali aku terlibat dengan beberapa geng sadis di kota ini. Bahkan aku sempat dicap ‘cewek preman’ di sekolah. Aku sudah berjanji pada sekolah untuk menjaga nama baik sekolah. Tapi tidak kali ini kalau jumlah musuhku ini terlalu bayak untuk aku hadapi sendirian. Aku teringat wajah jijik Jinki beberapa minggu lalu saat melihatku. Apa dia nanti akan membenciku jika aku benar-benar menjadi preman sekolah?
Seseorang menarik kerah leher belakangku. Aku tertarik beberapa meter dari tempatku berdiri tadi. Aku tidak bisa melihat siapa yang menarikku dan yang dibelakangku.
“Lepaskan!” Aku berusaha kuat meraih sesuatu di belakangku, tapi tidak ada.
“Tidak kali ini, Han Seungyeon. Aku akan menghabisi riwayatmu!”
Eunhyuk mulai menjabak rambutku. Aku melihat beberapa helai rambutku rambutku ada di tangannya. Aku kesakitan. Aku hampir menangis. Tapi aku harus melawan.
Orang yang menarikku tadi melemparkanku ke aspal. Aku terjatuh dengan wajah terlebih dahulu. Aku bisa merakasakan darah mulai mengalir dari dahiku dan lututku.
Orang yang menarikku tadi melemparkanku ke aspal. Aku terjatuh dengan wajah terlebih dahulu. Aku bisa merakasakan darah mulai mengalir dari dahiku dan lututku.
“Nggak seru ah. Dia nggak ngelawan.” Orang yang tadi melemparku berbicara. Dia Leeteuk, orang yang tiga minggu lalu hampir menyilet lenganku.
Eunhyuk menendangku. Aku terpuruk. Sungguh, aku tidak bisa melawan kali ini. Tapi bisa-bisa aku mati dalam keadaan seperti ini.
“Oppamu kemana? Bukannya dia yang bikin ulah? Kenapa jadi kamu sih yang kena?”
Aku mulai berusaha berdiri meski lututku bergetar. Aku nggak kuat. Someone help me.
“Kalian ini seperti anak kecil saja main-main seperti ini?”
Aku melihat semua orang memandang tercengang ke belakangku. Aku menoleh ke belakang dan ada seorang cowok. Dia memakai seragam sekolahku. Anak mana ini? Aku tidak pernah melihatnya. Cowok itu maju kearahku dan mendorongku sampi aku terpuruk di aspal. Dia melempar sebuah jaket kearah wajahku.
Aku tidak bisa melihat apa yang terjadi di sana. Badanku sama sekali tidak bisa bergerak. Suara keras orang kesakitan hanya terdengar dari telingaku yang mungkin sebentar lagi akan tuli.
Tidak lama, cowok itu mengambil jaket di atas wajahku.
“Sudah aman. Sekarang kesini.” Dia membopongku ke mobilnya. Aku duduk di kursi samping kemudi. Dia duduk disana.
“Aku Cho Kyuhyun. Kamu Seungyeon?”
“Iya. Dari mana . . .”
Darah segar keluar dari mulutku. Kyuhyun mengambil tisuue di dashboard dan mengusap mulutku.
“Aku agak jijik sama darah,” katanya.
“Terima kasih atas yang tadi.”
“Tidak apa-apa. Kebetulan aku lewat.”
“Kamu sekolah di sekolah yang sama denganku kan? Besok aku akan memberi hadian ucapan terima kasihnya.”
“Tidak usah repot-repot. Aku ikhlas. Lagipula itu kewajibanku sebagai laki-laki.”
Sekilas dia tersenyum. Wajahnya membuatku hampir menjerit. Wajahnya bagai dewa. Tampan dan gigi rapih. Tuhan….
“Sungguh. Aku jadi tidak enak jadinya nanti.” Kembali ke hidup nyata, Seungyeon.
“Kalau gitu, aku boleh minta sesutu. Yah.. sebagai ucapan terima kasih seperti katamu tadi.” Dia tersenyum lagi.
“Baiklah. Apa itu?”
“Kamu jadi pacarku.”
Tuhan… aku tidak bisa bernapas. Senyumnya masih saja menghias diwajahnya. Dia tahu aku tidak bisa menolaknya. Aku sudah terbius oleh ketampanannya.
Sadar Seungyeon, kamu kan cinta banget sama Jinki, malaikat berbicara.
Lupakan Jinki, Seungyeon. Tiga tahun dia mengacuhkanmu. Setan tidak mau kalah.
“Mmm… Aku tidak tahu harus jawab apa.” Aku berusaha agar terdengar sopan tapi suaraku bergetar.
“Oh kamu nggak perlu jawab sekarang,” Kyuhyun tersenyum penuh arti. “Aku tahu aku agak bodoh. Kamu baru mengenalku dan aku langsung memintamu jadi pacarku.”
Aku tersenyum kecut.
“Aku harus pulang sekarang. Terima kasih lagi atas yang tadi.”
“Tunggu. Biar kuantar pulang. Dimana rumahmu? Kali ini kamu nggak boleh nolak ya.” Dia benar-benar tahu aku tidak bisa menolaknya.
Sesampainya di depan rumahku, aku keluar dari mobil.
“Terima kasih. Aku benar-benar jadi nggak enak sama kamu.”
“Sama-sama. Makanya, terima permintaanku tadi.” Dia memamerkan senyum mautnya.
“Hmm.. kamu kelas berapa? Kamu anak baru? Rasanya aku nggak pernah melihatmu.”
Spontan wajahnya langsung menatapku dengan tatapan sedih.
“Kamu nggak pernah melihatku?” Dia menanyakan sangsi.
“Rasanya tidak. Kamu anak baru kan?” Aku jadi bingung.
Sejenak dia terdiam.
“Iya, benar. Aku anak baru.” Mukanya terlalu sedih untuk digambarkan. “Sana! Masuk sana!”
Aku masuk ke dalam. Dari dalam aku bisa melihat mobil hitam tersebut melaju pulang.
* * *
Aku duduk terdiam di meja ku di kelas. Bengong melihat lurus ke papan tulis. Tidakjauh dibelakangku, Jinki dan teman-temannya sedang bercanda-canda. Saat jam istirahat pun, aku tidak bersemangat. Plester di sekujur tubuhku gara-gara kejadian kemarin. Kemarin… ada dewa.
“Seungyeon, ada yang nyariin tuh.” Kepala Hara muncul dari pintu kelas.
Aku bangun dari meja dan menuju keluar.
“Siapa?” Aku bertanya padanya.
“Seorang dewa. Kamu kalau punya kenalan cowok ganteng, bilang-bilang dong.”
Aku melihat sosok Kyuhyun yang sempurna menatapku dengan dilengkapi senyum.
“Hai.” Dia memasang senyum mautnya.
“Err… Hai. Ada perlu apa?” Aku benar-benar bingung.
Rombongan Jinki keluar dari kelas dan melewati aku dan Kyuhyun.
“Nggak ada apa-apa, chagiya. Aku cuma kangen sama kamu. Nggak boleh?” Khyuhyun mencium pipiku sekilas.
Aku melayang. Aku benar-benar melayang.
“Sepertinya ada pasangan baru.” Tidak disangka-sangka Jinki yang berbicara. Dia tersenyum, ketus.
“Mwo? Andwe! Aku tidak ada hubungan apa-apa sama dia, oke?!” Aku membela diri. Tuhan, jangan sampai JInki salah paham.
“Lalu?”
“Err… yah, yah gitu.”
Seungyeon, pabo! Apa coba maksudmu ngomong tadi?
“Haha, lucu banget.” Jinki berbicara ketus lalu pergi diikuti teman-temannya. Rasanya aku ingin menangis. Aku kesal pada diri sendiri.
* * *
Pelajaran olahraga kali ini membuatku ingin pingsan. Baseball. Olahraga adalah kelemahanku. Aku tidak pernah sukses dalam cabang olahraga manapun. Seperti biasa aku sibuk memperhatikan Jinki yang sedang bermain di pinggir lapangan. Betapa kerennya dia dengan topi baseball dan seragamnya, walau dia buka anggota klub. Oh, Jinki saranghaeyo.
Tanpa sadar, karena khayalan bodohku, bola melayang dengan lambat menuju ke arahku.
“SEUNGYEON!!!!”
DUAAKK!!!
Hidungku, dimana hidungku? Uh, bau darah. Mataku penuh bintang dan akhirnya tertutup. Ada yang menggendongku. Siapa? Jinki?
Aku membuka mata pelan-pelan. Wajah tampan ada diatasku, penggendongku. Siwon. Dia membawaku ke ruang kesehatan.
“Ya! Bangun. Aku tahu kalau kamu sadar!” Suara ketus Zen berbicara. Gila, ganteng-ganteng tapi galak.
“Berisik Siwon. Mending ambilin lap basah. Darahnya keluar terus,” suara Gyuri. Dia sepertinya membasuh darah yang mengalir dari hidungku.
“Dia bener nggak apa-apa?” Suara Jinki yang lembut terdengar dari jauh.
“Tenang aja. Dia nggak bakal mati.” Sudah dipastikan ini Siwon yang ngomong.
Kali ini aku membuka mataku seluruhnya.
“Tuh kan, kubilang juga apa.”
Rasanya aku ingin meninju Siwon.
* * *
Aku berjalan dengan lesu ke arah parkiran. Saat aku mau melewati gerbang…
“Seungyeon, aku antar pulang ya?” Ini dia, si Kyuhyun.
“Err… nggak usah deh. Pulang sendiri aja, oke?”
“Seungyeon, langsung pulang ya. Jangan pacaran dulu.” Jonghyun nongol dari jendela mobil Jinki yang melesat kabur.
Aku akhirnya ikut dengan Kyuhyun. Sepanjang perjalanan, aku dan Kyuhyun hanya terdiam, bisu.
“Kamu menyukai Jinki ya?” Pertanyaan Kyuhyun itu membuatku kaget.
“Apa?” Mukaku langsung berpaling padanya. Kyuhyun hanya tersenyum kecut sambil terus menyetir dengan tenang.
“Tidak usah ditutupi. Matamu terbaca olehku.”
Aku tertunduk diam. Tanpa sadar, kami sudah ada di depan rumahku.
“Seungyeon.” Kyuhyun menatapku lurus, sebelum aku sempat turun. Matanya menahanku untuk turun dari mobilnya. “Kamu masih belum ingat siapa aku?”
Apa maksudnya?
“Seandainya sepuluh tahun lalu kamu tidak terlalu sibuk dengan dirimu sendiri. Mungkin kamu akan mengenalku.” Sia tidak menatapku, tapi menatap dashboard dengan tatapan sedih.
“Sepuluh tahun lalu?”
“Kamu nggak sadar? Saat kamu duduk di kelas tiga?”
“Ya?”
“Kamu berteman baik dengan Nicole dan Jiyoung.” Itu bukan pertanyaan, itu pernyataan.
“Dari mana kamu tahu?” Aku menarik nafas.
“Karena aku selalu memerhatikanmu. Sejak sepuluh tahun lalu. Seandainya kamu melihat ke belakang. Pasti ada aku yang selalu memerhatikanmu. Tapi kamu bahkan tidak sadar aku ada di dekatmu.”
“Kamu…”
“Kamu tahu kenapa aku datang kesini? Mencarimu?” sekarang dia menatapku lurus, mata ke mata.
Sesungguhnya aku tidak bisa berkata-kata. Aku teringat dia. Dia yang saat itu, sepuluh tahun lalu, pernah membuatkanku sebuah bunga dari plastik. Yang akhirnya bunga plastik itu kusimpan di kotak kenangan SD. Mungkin bunga itu masih ada disana.
“Karena aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk menjagamu. Tapi karena sepuluh tahun lalu aku masih seorang bocah polos, aku nggak bisa melakukan apa-apa.” Dia tertawa ringan.”Tapi sekarang, kamu bisa lihat sendiri, aku sudah bisa menjadi superheromu.” Dia tersenyum. Bukan senyum bahagia, tapi senyum kesedihan.
Tiba-tiba dia mendekapku ke dadanya. Aku bisa merasakan nafasnya di atas ubun-ubunku.
“Tapi, mungkin aku terlambat. Hahaha.” Dia melepaskanku dengan kasar. “Sudah sana. Masuk ke dalam. Sampai jumpa besok pagi.”
Aku keluar dengan membisikkan, ”Sampai jumpa besok, Kyuhyun.”TO BE CONTINUE
8:26 PM
|
Label:
FanFict
|
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 komentar:
Post a Comment