* * *
Aku berusaha tidak memikirkan apa yang dikatakan Kyuhyun kemarin. Anggap saja itu tidak pernah terjadi. Itu masa lalu. Aku tidak perlu merasa bersalah.
Pelajaran Biologi benar-benar menyusahkanku. Kami sekelas disuruh mencari tanaman-tanaman di sekitar sekolah. Sialnya, aku berpasangan dengan Siwon.
Sepanjang perjalanan, aku sengaja tidak mau cari ribut dengannya. Tapi ternyata dia yang memulai pembicaraan bodoh kami.
“Kamu ada hubungan apa sama Kyuhyun itu? Kelihatannya kalian sangat akrab.” Sia mungkin berusaha keras untuk berbicara sopan.
Aku menatapnya, memasang muka tolol. Wajahnya benar-benar sempurna.
“Tidak ada apa-apa. Nggak penting.” Sku berlari ke depan dan mendengar dibelakangku Siwon menahan tawa.
Sepulangnya aku seperti biasa sepanjang perjalanan selalu bengong. Sudah jam sembilan malam. Gyuri dan Taeyeon mengajakku pergi keliling kota. Sudut kota benar-benar membuatku takut. Dan ketakutan makin menjadi-jadi. Di depanku muncul seorang pria mabuk dan beberapa temannya yang masih waras, membawa pisau.
“Han Seunhyeon…” kata si boss yang di tengah.
Sial, kenapa harus berurusan dengan preman tolol begini.
“Jangan macam-macam. Mau apa kalian?” Aku harus waspada.
“Malam-malam begini belum pulang, mau kemana?” kata yang disebelah kanan.
Aku tidak bisa begitu jelas melihat wajah mereka. Terlalu gelap disini.
“Bukan urusanmu,” aku menjawab ketus.
Aku tidak tahu persis apa yang terjadi. Hanya saja saat si kanan meyerangku dan aku berusaha melawan dengan beberapa serangan, si kiri meremas jari-jariku. Dia menyilet leherku. Rasa sakit dan perih bukan main lebih kuat daripada keinginanku harus melawan. Mataku mulai mengeluarkan air mata. Tanganku tidak kuat untuk melepaskan cengkeraman.
Tiba-tiba suara dencitan mobil datang dan dobrakan pintu. Seseorang keluar dan aku bisa melihat Kyuhyun memukul dan meninju si boss dan si kanan. Melihat kawan-kawannya tidak berdaya, orang yang mencengkramku melepaskanku dan kabur sebelum Kyuhyun mulai menyerangnya.
“Kamu tidak apa-apa? Ayo masuk ke dalam mobil. Aku obati lukamu.” Kyuhyun membopongku. “Lihat dirimu ini, pulang malam-malam dan berurusan dengan preman.”
“Itu memang kehidupanku,” aku menjawab ketus.
Kyuhyun hanya tersenyum simpel.
“Mulai besok, aku yang akan mengantarmu pulang.”
* * *
Aku tidak bisa percaya ini, aku dan Gyuri duduk di hadapan Jinki dan Kibum, sedang membahas sejarah.
“Seungyeon, kamu pacaran dengan si anak baru itu?” Nggak disangka Kibum mulai menginterogasiku.
“Siapa?” Aku memasang muka tololku. Nggak sadar disitu ada Jinki.
“Maksudnya Kyuhyun. Kyuhyun. Yang ganteng banget itu lho.” Gyuri juga mulai ikut-ikutan. Aku melirik Jinki, dia sibuk membaca kamus sejarahnya.
“Nggak.”
“Masa? Kok kelihatannya mesra banget. Tiap hari selalu dianterin pulang.terus yang waktu itu, di depan situ. Kamu diciumnya.”
“Udah aku bilang, nggak ada apa-apa.” Aku mulai membanting meja.
“Mau mereka ada hubungan ataupun nggak. Nggak ada urusannya dengan kita, Kibum. Nggak usah kamu ganggu mereka.” Jinki berbicara seketus itu. Rasanya aku ingin menangis. Dia menatapku dengan tatapan jijik.
“Aku mau ke toilet dulu.” Aku benar-benar nggak bisa menahan nangisnya. Dari kelas 2, selama dua tahun aku berharap Jinki bisa berbicara lembut kepadaku, bisa dekat dengannya. Dua tahunpun, aku tidak bisa melakukannya.
***
Selesai pelajaran sejarah yang menyebalkan itu, menurutku, aku menghirup udara kebebasan di taman belakang sekolah. Aku bermaksud meminum susu coklatku di bangku taman namu ada seseorang disitu. Aku bersembunyi dibalik semak-semak dan mengamati Siwon yang sedang menangis di banku taman. Apa yang dilakukannya disitu?
Tetapi dia akhirnya menyadari juga kehadiranku. Dia menatapku garang, aku berusaha tidak memasang tampang meledak. Perlahan aku mendekatinya. Kuulurkan satu kotak susu coklatku. Dia mengacuhkanku dan mengalihkan pandangannya.
“Maaf, aku cuma punya ini. Coklat baik saat kamu sedang stres.”
Dia tetap tidak memperdulikanku. Kuletakkan susu tersebut di tangannya. Aku duduk disebelahnya dan bisa kulihat matanya merah dan masih berkaca-kaca.
”Kalau kau masih ingin menagis lagi, kupinjamkan bahuku. Sini.”
Perlahan kuletakkan kepalanya di bahuku. Postur tubuhnya yang tinggi dan aku yang pendek membuatnya tidak betah duduk miring seperti itu. Tapi Siwon tetap meletakkan kepalanya di bahuku. Aku mengeluarkan harmonikaku dari kantung.
”Akan kuberikan satu lagu untuk Siwon yang sedang bersedih.”
Lagu I’m Yours-nya Jason Mraz kumainkan dengan baik. Tiba-tiba bel masuk kelas berbunyi. Siwon langsung berdiri dan menatapku marah.
”Cepat masuk kelas.” Dia menarik lenganku sampai depan kelas.
* * *
Aku berlari menuju aula sekolah. Hari ini band Jinki akan latihan untuk prom. Sesampainya di aula aku duduk di barisan keenam dari bawah. Ternyata Kyuhyun menyusulku dan duduk disebelahku.
”Sudah kukira kamu akan kesini.” Dia membawakanku permen lolipop.
Lagu-lagu karya Snowdrop dimainkan bandnya dengan keren. Sepertinya Siwon bisa melampiaskan kemarahan dan kesedihannya dengan menggebuk drumnya. Lagu-lagu itu sudah familier di telingaku. Aku tidak pernah ketinggalan menonton acara panggung mereka, bahkan latihannya sekalipun.
Tiba-tiba seluruh penonton, yang kebanyakan anak-anak junior cewek mengerumuni sosok yang tidak bisa kulihat dari atas sini. Mungkin ada yang jatuh, kupikir. Kibum dan Jonghyun langsung turun panggung dan aku berlari ke bawah. Bisa kulihat tubuh Jinki digotong oleh Siwon dan Kibum yang disusul Jonghyun.
”Jinki sunbae pingsan dan jatuh dari panggung.” Aku mendengar selentingan anak junior yang memberitahu teman-temannya.
”Ayo kita pulang.” Kyuhyun membawaku keluar aula dan menuju parkiran. Mobil Kyuhyun tidak menuju jalan yang menuju ke rumahku, tapi sebaliknya.
”Mau kemana kita?” Aku bertanya padanya.
Sebenarnya kau tidak terlalu khawatir dibawa olehnya. Aku sungguh-sungguh percaya padanya. Kyuhyun hanya menjawab pertanyaanku dengan senyum mautnya. Hatiku benar-benar meleleh.
Ternyata aku dibawa ke kafe olehnya. Kami duduk di samping jendela besar. Bisa kulihat mobil-mobil lalu lalang diluar sana.
”Ada yang ingin aku tanyakan padamu,” tiba-tiba Kyuhyun bertanya. Wajahnya tidak menatapku, tetapi dia tampak serius mengaduk-aduk cappucinonya.
”Hah? Er… nanya apa?”
”Kalau suatu hari nanti kamu dilamar oleh orang yang sangat kamu cintai, dimana kamu ingin dilamar?” Kali ini dia benar-benar menatapku.
Aku membayangkan Jinki menyodorkan cincin pertunangan kami berdua dengan dikelilingi lampu-lampu berkelap-kelip di malam berbintang.
”Paris,” aku menjawab asal.
Kyuhyun yang mendengar itu tertawa pelan. ”Kok ketawa?”
”Kamu kebanyakan nonton film-film cengeng ya?” Aku mengerucutkan bibirku. ”Ada yang ingin aku katakan.”
”Apa itu?” Aku menanyakan, memang sedikit penasaran.
”Besok aku akan ke USA.”
”Kenapa tiba-tiba? Berapa lama?” Entah kenapa aku tidak bisa menerima dia berkata seperti itu.
”Paling cepat lima tahun.”
”Nggak bisa nunggu sampai prom?”
”Itu keputusanku, Seungyeon. Aku akan melanjutkan kuliah disana.” Selama berbicara itu dia tidak menatapku sedikit pun.
Tapi akhirnya dia mengangkat kepalanya juga.Dia tersenyum padaku.
”Kenapa Seungyeon?”
”Aku mau pulang.”
Aku terbangun jam sembilan pagi. Satu jam lagi pesawat Kyuhyun akan berangkat. Aku cepat-cepat mengejar bandara setelah mandi dan beres-beres tanpa sarapan. Aku berhasil nyusul dengan diantarkan supirku. Aku langsung masuk ke halte keberangkatan luar negeri. Diantara banyak orang aku menerobos ke arah, yang anehnya, Jinki, Siwon, Kibum, dan Jonghyun. Aku sempat berpikir, kenapa mereka ada disitu? Di dekat mereka ada Kyuhyun yang membawa koper-kopernya.
”Kamu datang juga, Seungyeon?” Kyuhyun merangkulku.
”Cepat Hyun, masuk ke dalam,” Siwon mengingatkan.
”Selamat tinggal semuanya. Annyeong, Seungyeon!” Kyuhyun melepasakan rangkulannya dan menuju pintu masuk.
”Kyuhyun.” Aku sadar pipiku sudah basah. ”Cepat pulang, ok?”
Kyuhyun membalikkan badannya dan melihatku berdiri seperti orang bego dengan mata dan pipi basah.
”Seungyeon?” Dia maju beberapa langkah ke arahku. Tangannya diletakkannya di bahuku. Dia membungkukkan sedikit badannya, menyamakan wajah kami agar setara. “Lima tahun lagi kita akan ke Paris, ya. Seperti keinginanmu kemarin.”
Aku hanya mengangguk.
”Makanya, tunggu aku lima tahun lagi ya.” Dia tersenyum manis, senyum favoritku.
“Saranghaeyo, Seungyeon.” Kyuhyun mengecup dahiku sekilas dan langsung membalikkan badan masuk ke dalam dan tidak terlihat lagi.
Lima tahun lagi. Waktu yang cukup lama bagiku.
”Seungyeon, ayo kita pulang.”
Kukira yang merangkulku itu Siwon, tetapi ternyata Jinki. Dia membawaku ke mobilnya. Di sepanjang perjalanan, dia berusaha mengakrabkan diri denganku.
”Kyuhyun itu sepupuku.” Jinki menjawab pertanyaanku awal tadi. ”Makanya aku mengatarkannya berangkat. Dia juga dekat dengan teman-temanku.”
Aku menyedot coca-cola yang tadi dibelikan Jinki di bandara. Kyuhyun tidak pernah cerita tentang itu.
”Kamu benar-benar pacaran dengan Kyuhyun?” Dia menatap lurus ke jalanan.
”Ah… nggak kok.”
”Syukurlah.” Dia tersenyum senang.
* * *
Prom tinggal beberapa hari lagi. Dan beberapa hari itu pula, Jinki jadi begitu baik dan perhatian padaku. Itu membuatku sedikit lebih baik dari beberapa hari yang lalu. Semua perhatiannya mengingatkanku pada Kyuhyun.
Sehari sebelum prom, aku bersembunyi dari keramaian sekolah di taman belakang, tempat favoritku. Seperti biasa aku bersembunyi di balik semak. Tidak ada seorang pun yang bisa melihatku dari situ.
Tiba-tiba seseorang berdeham di belakangku. Aku melihat Siwon tersenyum padaku. Aku langsung berdiri. Kaget.
“Sedang apa disini?” dia terlihat baik hari ini.
“Sembunyi.”
Siwon membungkukkan badannya, sama yang seperti dilakukan Kyuhyun saat di bandara. Sekarang wajah kami setara. Aku bisa melihat wajah sempurna itu hanya dengan jarak sepuluh sentimeter. Matanya coklat, aku baru pertama kali melihatnya. Beda dengan mata Jinki yang coklat muda.
“Janji apa dengan Kyuhyun lima tahun lagi?” Dia masih saja tidak mengubah jarak wajah kami. Itu membuatku canggung.
“Er… kami mau ke Paris.”
Dia memberikan respon dengan senyum dan menarik tubuhku ke dekapannya.
“Siwon! Choi Siwon! Ngapain kamu?” Aku berusaha melepasakan pelukannya tapi terlalu kuat.
“Hanya beberapa menit saja. Please.”
Mungkin sudah lewat lima menit aku berdiri dengan posisi seperti ini. Badanku pegal. Akhirnya dia berbicara juga, masih mendekapku.
“Kamu mau jadi pasangan promku untuk besok?”
Aku terdiam sebentar.
“Ok”.
Aku melihat sesorang sedang memperhatikan kami di balik bahu Siwon. Orang itu juga sadar aku sadar akan kehadirannya. Dia berbalik dan kabur. Aku masih sempat melihat wajahnya yang marah.
“Jinki?” Aku sadar bahwa dia adalah Jinki.
***
Aku mengenakan gaun pink muda ke acara prom malam ini. Siwon menejemputku dengan mobilnya. Dia tampak seperti pangeran malam ini dengan model rambut baru. Sesampainya di aula, tempat terselenggaranya, hapir semua murid memperhatikan kami berdua. Apa aku tampak begitu jelek di samping Siwon?
“Kamu cantik sekali malam ini.” Aku teringat perkataan Siwon saat melihatku pertama kali dalam keadaan seperti ini. Andai saja Kyuhyun melihatku seperti ini.
Sepanjang malam itu aku menghabiskannya dengan menyerbu hidangan. Siwon dan bandnya sibuk dengan unrusan panggung. Penampilan mereka selalu mengagumkan di atas panggung. Aku melihat Jinki yang bermain dengan sempurna, berpenampilan seperti pangeran berkuda putih, bagiku.
Acara ini selesai hapir pada tengah malam, hampir semua lagu dimainkan oleh Snowdrop. Siwon dan Jinki pun lebih banyak di atas panggung dan dibaliknya. Aku sudah menyiapkan sebuah hadiah spesial untuk Jinki, sebuah topi rajut dengan tulisan ’Lee Jinki’. Hadiah itu kubungkus dengan rapih.
Setelah Snowdrop turun panggung, aku menghampiri Jinki.
“Jinki-ah!” Aku memanggilnya.
Dia melihatku menghampirinya dan menghentikan langkahnya.
“Ini untukmu.” Aku menyodorkan kotak yang dibungkus dengan kertas hijau tersebut padanya.
“Ini apa?”
“Ucapan selamat dariku karena kamu berhasil lulus dan…. penampilan kamu yang keren malam ini.” Aku menambahkan senyum di akhir kataku.
Jinki mengambil bungkusan itu, mengamatinya sebentar.
”Nggak butuh!” Jinki melempar bungkusan itu ke lantai lalu membalikkan punggung.
”JINKI!!” Siwon lari menghampirinya dan meninju wajah Jinki. Jinki terjatuh ke lantai. Aku bisa mendengar hampir semua murid berteriak histeris. Bahkan Kibum dan Jonghyun langsung menghampiri mereka berdua.
“Kau tahu, Seungyeon rela bergadang semalaman untuk bikin ini buat mu!” Siwon memungut bungkusan hijau yang tadinya hadiah untuk Jinki itu dan melemparkannya ke wajah Jinki. “Ayo pulang Seungyeon.”
Sepanjang perjalanan aku menutup wajahku di atas tanganku dan sepanjang perjalan pulang pula Siwon menghiburku.
* * *
Tiga tahun sudah aku berada di Jepang. Tepatnya di Nagoya. Musim dingin sudah mulai sejak desember tahun lalu. Awal Januari ini aku mengharapkan mendapat sebuah puisi lagi. Hampir sebulan sekali aku dikirim sebuah puisi cinta oleh seseorang bernama ”snowman” di e-mailku. Tapi bulan ini dia belum mengirimkan puisinya. Aku tidak tahu siapa yang mengirimiku, tetapi aku benar-benar suka dengan puisinya. Puisi dari hati, menurutku.
Bagaimana kabar Jinki di Seoul sana? Apa Kyuhyun masih ada di USA? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul di kepalaku setiap hari. Hari ini hari ulang tahunku yang 21 tahun dan aku melewatkannya seharian di kamar.
”Seunhyeon. Lagi apa?” Kepala bibiku tiba-tiba nongol dari pintu kamarku.
“Nggak ada Ahjumma. Wae?”
“Ada yang nyari tuh diluar.”
Aku segera keluar dan melihat salju putih berserakan di jalanan. Seseorang berdiri di luar sana, memakai mantel hitam. Tubuhnya tinggi. Aku tidak bisa mengenalinya karena dia membelakangiku. Mungkin dia sadar aku sudah ada dan membalikkan badannya.
Sosok Jinki yang sedag tersenyum gembira melihatku ada di depanku.
”Saengil chukae Han Seungyeon.” Itu ucapan pertama yang keluar dari bibirnya setelah tiga tahun kami tidak bertemu.
JInki mengajakku ke taman kota. Sore hari sudah mulai tampak malam pada musim dingin begini. Kami duduk di bangku taman yang dikelilingi hiasan berkelip-kelip.
”Kamu kenapa ada disini?”
”Jalan-jalan. Keluargaku mengajakku jalan-jalan tahun baru dan aku dengar kamu ada di Hokkaido. Jadi….” Sia menatapku. Mata coklat mudanya masih sama seperti dulu. ”Kamu nggak berubah banyak.”
Aku tertawa sekilas.
”Hm, dari mana kamu tahu aku hari ini ulang tahun?”
”Aku bisa tahu dari mana aja kan?”
Lama kami terdiam. Aku benar-benar bingung harus bicara apa.
”Bagaimana kabar Siwon, Kibum, dan Jonghyun?”
”Mereka baik. Seperti biasa.” Aku jadi teringat keributan antara Siwon dan Jinki saat prom tiga tahun lalu. ”Pertemuan terakhir kita saat prom ya?”
Aku mengangguk. Entah kenapa dia bisa membaca pikiranku. Jinki mengeluarkan sesuatu dari balik mantelnya. Awalnya kukira itu kaos tangan tetapi ternyata topi rajut dengan tulisan ‘Lee Jinki’ buatanku.
“Kukira sudah dibuang,” Aku mengamati topi itu.
“Aku nggak akan pernah membuang ini.”
Hujan salju mulai turun. Pertengahan musim dingin mulai terasa.
”Snowdrop,” aku berkata ling-lung.
”Mwo?” Jinki bertanya bingung
.
”Snowdrop. Hujan salju. Sama seperti nama bandmu. Hahaha.”
”Kamu tahu kenapa nama bandku seperti itu?” Mendadak wajah Jinki berubah serius. ”Itu karena nama peri Snowdrop mempunyai arti yang sama dengan nama Seungyeon.”
Aku menatapnya. Diam. Jinki menegeluarkan sebuah kotak panjang dan membukanya. Dia mengulurkan kalung dengan bentuk salju.
”Pakailah. Ini hadiah ulang tahunmu dariku.” Jinki memakaikan kalung itu di leherku. ”Salju ini artinya nama bandku, seperti katamu tadi dan yang paling spesial, di tengah salju seperti ini, kita untuk pertama kalinya bisa bersama.”
Aku menatap kalung yang sekarang tergantung di leherku. Indah. Mempunyai arti yang dalam antara aku dan Jinki.
”Aku mempunyai sebuah permintaan. Dan aku harap kamu bisa mengabulkannya,” Jinkiberkata.
”Apa itu?”
”Dua tahun lagi, saat hari ulang tahunmu, maukah kamu bertemu denganku lagi di taman belakang sekolah kita dulu? Dan aku harap kamu masih memakai kalung ini saat itu.”
”Kenapa?”
”Kamu pasti terlihat cantik dengan kalung itu. Apa kamu berjanji?”
”Aku janji. Dua tahun lagi, saat ulang tahunku.”
* * *
Setelah pertemuan pertamaku dengan Jinki dua tahun alu, kami sudah jarang berkontak-kontak lagi. Bahkan mungkin tidak pernah. Selama dua tahun setelah itu pun, aku benar-benar merasa kesepian. Bahkan tidak ada e-mail puisi cinta yang dikirimkan orang tidak dikenal untukku. Tidak ada satupun.
Kepulanganku ke Seoul tidak diketahui oleh teman-temanku seperti Siwon, Kyuhyun, Jonghyun, dan Kibum. Ataupun teman-teman lainnya. Kepulanganku bertepatan dengan hari ulang tahunku. Dan aku masih ingat janjiku dengan Jinki dua tahun lalu. Apa dia masih mengingatnya?
Aku menuju sekolahku dulu setelah membereskan barang-barangku di rumah. Aku tiba disana pukul sepuluh pagi. Saat itu hari Minggu, dan sekolah itu tampak begitu bersedih tanpa penghuninya. Aku menuju taman belakang sekolah dan duduk di bangku tamannya. Di tempat ini aku pernah melihat Siwon menangis dan aku memainkan sebuah lagu untuknya.
Jinki belum datang. Sepanjang aku menunggunya, aku memainkan kalung tersebut. Kalung ini tidak pernah kulepas sejak dia tergatung untuk pertama kalinya di leherku.
Aku menunggu cukup lama. Bahkan aku tertidur dua jam saat itu. Hari sudah mulai gelap dan Jinki masih tetap belum datang. Apa dia benar-benar lupa? Aku sudah berjanji padanya untuk datang, begitu juga dengannya.
Sudah pukul enam sore dan aku putus harapan. Mungkin Jinki benar-benar melupakannya.
”Seungyeon?”
Tiba-tiba ada yang menegurku. Aku sudah senang saat kupikir itu Jinki, tetapi Siwon. Selama lima tahun kami tidak bertemu, dia tidak banyak berubah. Hanya dia bertambah tinggi dan bertambah tampan.
“Siwon. Apa yang kamu lakukan disini?”
”Ayo ikut!” Siwon menarik tanganku dengan kasar.
”Tunggu. Aku mesti nunggu Jinki.”
”Jinki nggak bakal datang!” Dia menarikku ke mobilnya.
Aku dibawanya ke sebuah rumah yang cukup besar. Aku tidak tahu ini rumah siapa. Mungkin rumah dia.
Di dalam, Kibum dan Jonghyun sudah menunggu. Kibum menunjuk sebuah pintu. Aku membaca sebuah tulisan di pintu tersebut: Jinki’s room. Rupanya ini rumah Jinki.
”Masuklah,” Siwon berkata
.
Aku perlahan membuka pintu tersebut, takut melihat seseorang didalamnya yang sedang sakit terbaring di tempat tidurnya. Kukira Jinki akan ada di tempat tidur tersebut, tetapi tidak ada. Di seluruh ruangan ini, tidak ada Jinki. Bahkan tidak ada seorang pun, hanya aku. Aku berjalan pelan ke arah meja tulisnya. Disana terdapat figura-fura foto dirinya saat kecil beserta keluarganya. Banyak sekali berserakan buku-buku musik dan buku-buku notes. Mungkin dia suka menulis lagunya disini. Sekilas pandanganku tertuju pada sebuah surat, dengan tulisan: Untuk Han Seungyeon. Aku menunjuk surat itu pada Siwon yang ada diluar ruangan.
”Bukalah. Itu untukmu,” katanya.
Aku membukanya, perlahan, dan mulai membacanya.
Dear Seungyeon.
Saengil chukae, uri Seungyeon.
Maaf sekali aku tidak bisa menepati janjiku.
Maaf sekali aku tidak bisa menemuimu lagi.
Padahal kamu pasti terlihat cantik sekali dengan kalung yang kuberikan itu.
Pertemuan kita dua tahun lalu itu benar-benar jadi pertemuan pertama kita bersama, dan juga yang terakhir kalinya.
Padahal masih banyak yang ingin kubicarakan denganmu.
Bagiku, pertemuan kita dulu hanya sebentar.
Saat kita sekolah dulu, maaf sekali aku tidak pernah peduli padamu.
Sejujurnya aku tidask pernah ingin berbuat begitu.
Aku memang telah melukai hatiku sendiri, Seungyeon.
Maafkan aku.
Hanya satu hari aku diberikan kesempatan untuk bisa berbuat baik padamu.
Maafkan aku jika perlakuanku padamu pernah menyakitimu.
Aku tetap menyediakan sebuah hadiah spesial untukmu.
Bukalah halaman terakhir buku warna violet.
Isinya semua untukmu.
Sekali lagi, saengil chukae.
Jinki
Aku membuka buku warna violet yang ada diatas mejanya. Aku tidak langsung membuka halaman terakhir. Aku membuka perlahan.
Tuhan, semua isinya sama persis dengan puisi-puisi yang dikirmkan ke e-mailku. Puisi, kukira beigut, tetapi sebenarnya lagu. Seluruhnya ada 31 lagu. Lagu terakhir ditulis sehari sebelum ulang tahunku dua tahun lalu. Jinki selalu mengirimkan lagu-lagu ciptaannya untukku tanpa kuketahui.
Aku membuka halaman terakhir, hanya ada satu kalimat di atasnya. Dan ditulis sekitar dua bulan yang lalu.
Saranghaeyo, Han Seunghyeon.
Pabo Jinki! Kenapa kamu tidak mengatakannya saat dulu sekali? Hanya satu kalimat terakhir itu saja yang aku ingin dengar dari bibirmu saat itu. Dan sekarang aku hanya bisa membacanya dari atas kertas saja.
Siwon masuk dan duduk di pinggir tempat tidur.
”Jinki meninggal dua bulan yang lalu karena penyakitnya. Kamu ingat saat kami latihan band dan dia jatuh pingsan? Itu karena penyakitnya juga. Aku menggantikan Jinki minta maaf padamu atas perlakuan kasarnya padamu saat dulu. Tetapi sebenarnya dia selalu menyayangimu, Seungyeon. Selalu. Sejak dulu. Jinki memberitahuku bahwa hari ini kalian akan janjian ketemu, dan kalau dia tidak bisa datang, aku harus menggantikannya. Maafkan Jinki, Seungyeon. Lagu terakhirnya pun khusus dituliskannya untukmu, sehari sebelum kamu berulang tahun dua tahun lalu. Dan satu pesan terakhir dia, dia ingin kamu selalu bahagia dengan orang yang kamu cintai. Dan dia meminta Kyuhyun untuk menjagamu.”
***
Selama seminggu aku terus bermimpi pertemuan terakhir aku dan Jinki di tengah lampu-lampu yang berkelip. Kulihat wajah tampan Jinki selalu tersenyum padaku. Tidak peduli didalamnya ada penyakit mematikan yang menggerogoti tubuhnya.
* * *
Siwon mengajakku pegi ke Paris. Alasannya untuk menenangkan hatiku. Sepanjang perjalanan Siwon menggodaiku dengan perjanjian aku dan Kyuhyun lima tahun lalu. Bahkan itu pun aku sudah lupa.
”Teleponlah Kyuhyun. Katanya dia sudah di Paris.” Siwon memberikan ponselnya saat kami sudah berjam-jam di hotel.
Aku dengan ragu menekan nomor Kyuhyun. Selama lima tahun dia tidak mengubah nomor ponselnya.
Suara deringan lama, baru diangkat.
”Âlo?” (Halo dalam bahasa Perancis)
”Kyuhyun-ah. Ini aku. Seungyeon. Han Seungyeon.”
”Oh”.
’Oh’? Cuma itu responnya?
”Bagaimana kabarmu? Sudah lama.”
”Ya. Aku baik saja. Kau?”
“Aku juga. Aku senang bisa mendengar suaramu.”
Lama tidak ada jawaban.
“Kamu ada di Paris?” tanyaku.
“Ya.”
Aku menyebutkan waktu dan tempat aku ingin bertemu dengannya tanpa mendengar dia bisa datang atau tidak.
* * *
Central park Paris malam-malam benar-benar dingin, terutama musim dingin seperti ini. Aku bilang pada Kyuhyun aku akan menunggunya jam tujuh malam. Aku menunggunya duduk di bangku taman.
“Hei!” Aku menoleh ke belakang dan melihat sosok Kyuhyun menuju kemari. Dia duduk di sebelahku.
“Kamu datang.”
“Ah ya. Lama sekali kita nggak ketemu.”
Lama kami terdiam. Akhirnya dia bicara.
“Er… maaf soal telepon tadi. Aku sedikit kasar ya? Er… kamu sudah tahu tentang Jinki?” Dia terlihat agak gugup.
“Ah ya.”
“Hm… maksudku, yang dia memberikan kamu padaku.”
“Memangnya aku barang?” Aku sedikit tersinggung.
“Maaf. Aku sudah berjanji padanya untuk selalu menjagamu.”
Aku terdiam.
”Maaf lima tahun lalu aku meninggalkanmu. Sebenarnya ada alasannya.” Dia terlihat takut.
”Kamu pergi ke USA untuk kuliah kan? Aku tahu itu.” Aku tersenyum padanya.
“Ada hal lain. Aku tahu kamu sangat mencintai Jinki, karena itu aku pergi untuk memberikanmu kepada Jinki. Maafkan aku.”
“Apa? Kamu itu jahat sekali!” Aku mapir menjabak rambutnya. Air mataku keluar lagi. Sekarang hampir tiap hari aku menangis.
“Maafkan aku, Seungyeon.” Kyuhyun lalu mengambil sebuah kotak kecil dari sakunya dan membukanya. Didalamnya ada dua buah cincin dengan bentuk salju.
“Cincin ini dipilih khusus oleh Jinki untukmu dan suamimu nanti.” Dia terlihat serius sekarang. Selama lima tahun wajahnya telah berubah menjadi seorang pria. ”Han Seungyeon, maukah kamu menikah denganku?”
Kyuhyun benar-benar menepati janjinya lima tahun lalu. Aku ingin dilamar oleh orang yang sangat kucintai di kota Paris dengan dikelilingi lampu berkelip-kelip disekitar kami. Kyuhyun selalu tahu apa yang aku mau. Dan dia tahu aku tidak bisa menolaknya.
“Ya.”
“Jinki akan bahagia disana.”
Lalu dia memakaikan cincin tersebut di jari manis kiriku. Cincin Kyuhyun-Seungyeon tersebut melengkapi dan menemani kalung Jinki-Seungyeon yang tergantung di leherku. Selamanya.
THE END